Dalam bus Damri menuju terminal Bungur Asih, aku memilih
tempat duduk di samping jendela, sesaat sebelum pintu ditutup, seorang
laki-laki bergegas masuk dan langsung duduk di dampingku. Aku taksir dia
berusia 25-30 tahun. Belum 5 menit dia duduk “assalamu’alaikum,,, dari mana
mas?” tanyaku. “Wa ‘alaikum salam,,,
dari Banjarmasin mas” jawabnya sembari melemparkan senyumnya kepadaku.
Sedikit mengangkat kepalaku “Lhaa,,, sama donk, mas naik Lion 313 yang baru
mendarat tadi?” kataku. Sembari masih menahan senyumnya “gech mas, mas dari
banjar juga?”. “Inggih, dari banjar juga, ini mau ke Tulungagung”.
Percakapan panjang pun terjadi di bus Damri dalam pejalanan
kami. Ternyata ma situ bernama Bambang, asli dari Ponorogo. Di Kalimantan dia
bekerja sebagai karyawan tambang batubara di daerah Tanjung, dan menetap di
sana setelah berhasil mempersunting bunga desa tempat dia bekerja. Sikapnya
yang ramah dan baik membuatku tak ragu, aku pun bercerita untuk apa aku kepulau
Jawa ini. Dan yang tak kulewatkan bertanya tentang apa yang harus kulakukan
sesampainya di Bungur Asih. Dia pun menjelaskan dengan teliti semua hal padaku,
lebih lengkap dari apa yang sebelumnya kudengar dari mas Sugito.
Kurang dari satu jam kami tiba di terminal induk Bungur Asih,
ada banyak bus untuk menuju ke berbagai kota. Begitu pintu bus dibuka, mas
Bambang turun lebih dulu dariku. Ketika dalam bus mas Bambang menyuruhku untuk
meletakkan dompet di kantong depan celana, karena di Bungur Asih sangat rawan
kejahatan. Saat aku keluar terlihat mas Bambang berdiri disamping bus. Tenyata
dia menunggu aku keluar dari bus dan menngajakku untuk mengikutinya. Dia
menunjukkan jalan padaku dan mengantarkan aku ke bus yang harus kunaiki untuk
sampai Tulungagung. Selama di terminal, tak terhitung ada berapa calo yang
menghampiri kami. “Kalau ada calo jangan dihirani”, begitu kata mas Bambang
mengingatkan aku. Sampai ketika ada seorang laki-laki berwajah sangar, kurus
dan tinggi menghampiri kami dan menanyakan kemana tujuan kami serta menawarkan
bus untuk kami. Saat itu mas Bambang mendekap erat pergelangan tanganku dan tak
menghiraukan si calo. Kami mempercepat langkah kaki kami namun si calo tetap
saja mengikuti kami hingga pada akhirnya dia marah karena tak dihiraukan. Jelas
yang jadi objeknya adalah mas Bambang. Jantungku berdetak semakin kencang dan
keringat dinginku keluar. Namun mas Bambang masih bisa memberikan senyumnya
kepada si calo yang akhirnya meredam amarahnya.
Ya Allah,,, beruntung sekali aku bisa bertemu dengan orang
seperti mas Bambang. Apa jadinya kalau seandainya aku tak bertemu dia hari ini.
Mungkin saja sesuatu yang tak diinginkan terjadi padaku kan? Jangankan aku,
bapak-bapak saja kulihat ada yang berhasil ditarik oleh calo yang sebenarnya
jauh lebih belia dariku. Dengan wajah bengong melongo bapak-bapak itu mau saja
digiring calo tanpa tau pasti benar ga bus yang ditunjukkan itu tujuannya ke
tempat yang dikehendakinya.
Mas Bambang menyarankan agar aku naik bus dari depan gerbang
terminal saja, menunggu bus yang akan keluar dengan tujuan Tulungagung. Beruntung
begitu kami sampai di depan terminal ada sebuah bus yang keluar tujuan
Tulungagung. Mas Bambang pun memanggil bus agar berhenti sesaat, aku pamit sama
dia, bersalaman dan mengucap salam, kemudian segera berlari menuju bus. Sekali lagi,
senyum mekar mas Bambang yang ditangkap oleh mataku terakhir kali itu, masih
bisa kuingat hingga hari ini. Satu hal yang sangat kusesali dan disayangkan, tak
sempat aku meminta nomer ponsel dari mas Bambang, begitu juga aku tak sempat
memberikan nomer ponselku. Karena memang selama dalam bus Damri dan di terminal
aku maupun mas bambang tidak menyentuh ponsel sedikitpun.
Dalam bus Harapan Jaya, aku menyandarkan tubuhku sembari
tersenyum mengingat mas Bambang. Terima kasih mas, kebaikanmu akan selalu
kukenang, memberikanku pelajaran yang begitu berarti. Semoga setiap saat
kebaikanmu dilipatgandakan mas, kebaikan yang akan memberikan kebahagiaan
untukmu. Karenamu aku bisa untuk mandiri, karenamu aku mendapat pengalaman
berarti dalam hidupku. Suatu saat kelak ketika aku menginjakkan kaki ke pulau
jawa, menaiki bus dari bandara sampai kerumah, kau lah yang pertama kuingat,
karena kau lah yang mengajarkan aku.
Tulungagung, 20 April 2012
Bersambung lagi ya,,, J hihihi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar